Tuesday, April 8, 2008

Bersama Rasulullah di Penghujung Ramadan

Rasulullah di Penghujung Ramadan
Oleh: Ariuddin Jalil *


Ramadan tahun ini, 1428 Hijriyah hampir berakhir. Tidak terasa Ramadan yang penuh barokah itu meninggalkan kita semua. Padahal belum tentu Ramadan mendatang, 1429 Hijriyah dapat kita bersamanya.
Menjelang berakhirnya bulan suci tersebut, beragam aktivitas kaum muslim dalam menyambut Idul Fitri. Tak sedikit di antara mereka sibuk mengurus kepentingan duniawinya, seperti rajin ke mall membeli pakaian lebaran, kue, serta aneka keperluan lainnya. Namun hanya segelintir kaum beriman yang menyempatkan diri memanfaatkan malam 10 terakhir Ramadan itu. Tengok saja jamaah yang melaksanakan salat taraweh. Hampir semua masjid di Batam tampak lapang lantaran jamaahnya semakin berkurang. Tak ada lagi masjid yang membludak hingga tidak mampu menampung jamaah karena antusias warga menyambut kedatangan bulan yang penuh barokah itu. Perbedaan di awal Ramadan dan di akhir Ramadan cukup terasa.
Padahal, kita tahu bersama bahwa malam-malam terakhir Ramadan itu merupakan malam yang sangat istimewa, yang populer dengan sebutan malam lailatul qadar.Rasulullah SAW selalu menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan itu. Beliau selalu beritikaf pada 10 malam terakhir Ramadan itu. Bahkan pada tahun dimana beliau wafat, beliau melakukan I’tikaf selama dua puluh hari.
Wahai hamba Allah, perhatikanlah tauladan kita Rasulullah dan para sahabatnya. Tatkala di penghujung bulan Ramadan mayoritas masyarakat muslim bersibuk ria dengan pakaian, makanan dan urusan duniawi dalam rangka menyambut Idul Fitri, namun tauladan dan kecintaan kita beri’tikaf di Masjid, lebih berkonsentrasi di dalam beribadah kepada Allah, melepaskan urusan duniawinya dan lebih menyibukkan diri dengan ketaatan kepada Allah. Maha Besar Allah, padahal beliau adalah orang yang telah dijanjikan surga oleh Allah, dan segala dosanya yang telah lalu dan akan datang diampuni oleh Allah Al-Ghofur, namun keteladanan beliau benar-benar menunjukkan akhlak yang agung, yang tiada tandingan dan bandingannya. Subhanallah.
Suatu ketika Rasulullah SAW ditegur oleh istrinya Aisyah. Apa sebab? Sang istri tercinta Aisyah prihatin dengan kebiasaan Rasulullah menghidupkan qiyamul lail atau salat malam. Saking lamanya berdiri menyebabkan kedua mata kaki Rasulullah bengkak. Aisyah pun prihatin lalu mendatangi Rasulullah. Ya Rasulullah, mengapa engkau lakukan ini? Bukankah segala dosamu, baik yang telah lalu maupun yang akan datang dijamin diampuni oleh Allah SWT? Lalu apa jawaban Rasulullah. Beliau menjawab, Wahai Aisyah, "Apakah memangnya saya ini tidak boleh menjadi hamba yang senantiasa bersyukur" Subhanallah. Rasulullah saja yang dijamin masuk surga, masih rajin sujud kepada sang khalik.
Sekedar diketahui, beritikaf adalah merupakan salah satu kebiasaan Rasulullah, yang dilakukan pada sepuluh di penghujung Ramadan. Kata i'tikaf berasal dari 'akafa alaihi', artinya senantiasa atau berkemauan kuat untuk menetapi sesuatu atau setia kepada sesuatu. Secara harfiah kata i'tikaf berarti tinggal di suatu tempat, sedangkan syar'iyah kata i'tikaf berarti tinggal di masjid untuk beberapa hari, teristimewa sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.
Selama hari-hari itu, seorang yang melakukan i'tikaf (mu'takif) mengasingkan diri dari segala urusan duniawi dan menggantinya dengan kesibukan ibadat dan zikir kepada Allah dengan sepenuh hati. Dengan i'tikaf seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, kita berserah diri kepada Allah dengan menyerahkan segala urusannya kepada-Nya, dan bersimpuh di hadapan pintu anugerah dan rahmat-Nya.
Yang dilakukan pada saat i'tikaf pada hakikatnya adalah taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah. Makna taqrrub adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan beragam rangkaian ibadah. Di antaranya,salat, zikir, membaca ayat-ayat Al-Quran, belajar Al-Quran, memahami isi kandungan Al-Quran, serta berdoa.
Meminta kepada Allah atas apa yang kita inginkan, baik yang terkait dengan kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat. Dan aktifitas meminta kepada Allah bukanlah kesalahan, bahkan bagian dari pendekatan kita kepada Allah. Allah SWT senang dengan hamba-Nya yang meminta kepada-Nya. Meski tidak langsung dikabulkan, tetapi karena meminta itu adalah ibadah, maka tetaplah meminta.
Semakin banyak kita meminta, maka semakin banyak pula pahala yang Allah berikan. Dan bila dikabulkan, tentu saja menjadi kebahagiaan tersendiri. Dan meminta kepada Allah (berdoa) sangat dianjurkan untuk dilakukan di dalam berik'tikaf.
Namun dari semua kegiatan di atas, bukan berarti seorang yang beri'tikaf tidak boleh melakukan apapun kecuali itu. Dia boleh makan di malam hari, dia juga boleh istirahat, tidur, berbicara, mandi, buang air, bahkan boleh hanya diam saja. Sebab makna i'tikaf memang diam. Tetapi bukan berarti diam saja sepanjang waktu i'tikaf.
Itikaf itu hukumnya sunnah untuk dilakukan di 10 hari terakhir bulan Ramadan. Dalilnya adalah perbuatan nabi SAW yang telah melakukannya, bahkan tiap tahun tanpa meninggalkannya sekalipun. Sehingga ada sebagian ulama yang nyaris hampir mewajibkannya. Namun hukumnya tidak wajib, tetapi sunnah yang sangat dianjurkan.
Dari Aisyah Ra. ia berkata, "Rasulullah SAW melakukan i'tikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan, sampai saat ia dipanggil Allah Azza wa Jalla." (HR Bukhari dan Muslim).
Dan dari Ibnu Umar r.a. ia berkata, "Rasulullah SAW melakukan i'tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan." (HR Bukhari dan Muslim).
Wahai hamba Allah, kita masih punya kesempatan untuk menghidupkan malam-malam terakhir di penghujung Ramadan itu. Memperbanyak itikaf adalah bagian upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ingatlah bahwa Ramadan yang sebentar lagi meninggalkan kita, belum tentu dapat bertemu pada Ramadan berikutnya. Semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang selalu menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan. Sehingga kita meraih keberkahan, ampunan-Nya, serta dibebaskan dari api neraka, amien. Wallahu a'lam bishawab. ***

Arifuddin Jalil, Ketua Bidang Hikmah dan Hubungan Antar Lembaga Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Provinsi Kepri, serta Ketua Bidang Kerohanian PWI Cabang Kepri.

Monday, April 7, 2008

Strategi Jurnalistik Dakwah

“Dan hendaklah ada di antara kalian, segolongan umat penyebar dakwah kepada kebajikan, yang tugasnya menyeru berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar.Itulah mereka yang beruntung” . (QS Ali Imran:104)

Era reformasi yang ditandai dengan munculnya banyak media cetak, baik berupa koran, tabloid, maupun majalah harus dianggap sebagai tantangan sekaligus ditangkap sebagai peluang dakwah yang strategis.

Penyampaian dakwah lewat media massa merupakan bagian dari dakwah bil qolam atau dakwah dengan pena. Langkah-langkah dakwah melalui media tersebut tentu cukup strategis.

Bagaimana Menjadi Seorang Penulis dan
Apa Modal Dasar Penulis?

Intelektual
“Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu itu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wa jalla dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya dalam kedudukan terhormat dan mulia. Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan akhirat.” (HR Ar-Rabi).


Untuk menjadi penulis, kita harus pintar secara intelektual. Memiliki banyak pengetahuan atau wawasan yang luas. Karena menulis di media massa sama dengan memberi informasi dan pelajaran kepada masyarakat. Sehingga seorang penulis haruslah seorang intelek. Intelektualitas bukanlah berarti menyangkut tinggi rendahnya pendidikan formal seseorang. Contoh seorang penulis, Emha Ainun Nadjib, Ahmad Thohari, Arsendo Atmowiloto, dan D Zawawi Imron.

Kepekaan

Ternyata pintar saja tidak cukup. Sehingga seorang penulis harus memiliki kepekaan dan saya kritis. Penulis harus mampu memahami fenoma yang sedang terjadi di sekitarnya. Seperti fenomena sosial yang terus berkembang. Tulisan yang tidak diimbangi dengan kepekaan sosial akan terasa hambar dan tidak menarik.

Keberanian

“Rasa takut kepada manusia jangan sampai mencegah seorang apabila mengetahui suatu yang haq untuk menegakkannya.” (HR Ahmad)

Tanpa keberanian, jalan yang Anda retas menuju dunia jurnalistik hampir bisa dipastikan akan gagal total. Sebab menyampaikan ide, pengetahuan, gagasan atau mungkin kritik sebagai bagian dari aktivitas seorang penulis membutuhkan keberanian. Minimal berani untuk mencoba.
-Ketekunan

“Dan kamu pahat sebagian gunung-gunung untuk djadikan rumah-rumah dengan rajin.” (QS Asy Syu’ara:149)

Ketekunan adalah salah satu kunci sukses menjadi penulis yang handal. Ada ungkapan, belajar menulis itu mudah, yang sulit adalah membiasakan diri untuk tekun menulis. Ketekunan merupakan kunci yang tak boleh diabakan.
Thomas Alva Edison menyebutkan, “Genius itu adalah 1 persen inspirasi, 99 persen cucuran keringat. Artinya kecerdasan dan kesanggupan berpikir itu hanya 1 persen, sisanya adalah kerja keras.

Kesabaran

“Tidak ada suatu rezeki yang Allah berikan kepada seorang hamba yang lebih luas baginya daripada sabar.” (HR Al-Hakim)

Ketekunan harus dibarengi dengan kesabaran agar kita tidak putus asa ketika tulisan yang dibuat secara payah ternyata ditolak mentah-mentah oleh redaksi. Tulisan yang ditolak bukanlah berarti kiamat yang menjadikan dirinya putus asa, namun sebagai cambuk untuk terus berkarya sampai produk tulisannya menembus media massa. Rasanya tidak ada cerita penulis top yang merinis karir penulisannya dengan melenggang begitu saja tanpa hambatan.

Penyampaian dakwah dapat melalui:
* Rubrik artikel atau opini
* Pemberitaan guna menghadapi perang pemikiran atau al ghazwul fikr.

Fungsi Media massa:
Fungsi Informasi
Dalam kehidupan di era keterbukaan ini, informasi sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Dalam konteks dakwah, seorang penulis bisa memainkan peran sebagai pelurus informasi. Sebab pada kenyataannya berita-berita yang tersaji di sebagian media massa ada yang direkayasa dan dimanipulasi guna mendeskriditkan salah satu kelompok.

Fungsi Pendidikan/dakwah
Sebagai pendidik, penulis muslim perlu memiliki komitmen dakwah agar bisa melaksanakan fungsi edukasi yang islami. Penulis dapat memberikan motivasi untuk tampil sebagai pribadi muslim yang kaffah di tengah kerusakan moral yang melanda umat manusia.

Fungsi Hiburan
Seorang penulis menghibur masyarakat melalui sajian tulisannya. Tak sedikit tulisan di media massa yang ditulis dengan sense of humor yang tinggi. Sehingga banyak ulasan topik yang berat menjadi ringan, segar, penuh nuansa, lucu, serta menyentuh sisi kemanusiaan. Tulisan menghibur itu bisa berupa cerita fiksi (novel dan cerpen) maupun feature (berita kisah).

Fungsi Kontrol Sosial.
Dalam konteks dakwah, penulis muslim harus tanggap bila terjadi penyimpangan atau penyelewengan, baik yang berkaitan dengan syariat Islam maupun kebijakan lainnya.
Bagaimana Strategi Jurnalistik di Media Massa?

Memahami Visi Media
Mencari informasi pada penulis yang sudah menulis di media tsb, mengamati sendiri, berdasarkan pengalaman. Secara umum, media saat ini lebih mengedepankan bisnis ketimbang idealisme. Hal itu terkait dengn kelangsungan media itu sendiri.

Cermat Memilih Bahan
(Penting, besar, waktu, dekat, tenar, serta manusiawi)

Menulis dengan Sistematis
(Urutan waktu/kronologis, urutan ruang, urutan klimaks, urutan sebab akibat, urutan akibat-sebab, urutan umumu-khuus, urutan khusus-umum, pemecahan masalah, keakraban, serta aksetabilitas.
Pintar mendesain Judul
Pintar Mendesain Lead
Kalimat Dibuat Padat, Lugas dan Komunikatif.

Tiga Bentuk Jurnalisme di Media Massa:
Media Massa dengan simbol Islam.
Misalnya, majalah Umat, Panji Masyarakat, Amanah, Hidayatullah, Suara Muhammadiyah, dll.
Media Massa tanpa simbol Islam.
Penyampaian informasi dilakukan secara tersirat dan masyarakat mempersepsikan memiliki misi agama, seperti Republika, Kompas.
Dalam media massa tertentu, penulis memasukkan misi agamanya, yang berupa gagasan dan ide. Misal, Bismar Siregar menulis di Kompas, Muhamad Sobary di Gatra, Emha Ainun Nadjid di Jawa Pos.***

Selamat Datang di Blog Arifuddin Jalil

Saya Arifuddin Jalil mengucapkan selamat datang di blog ini. Semoga kita bisa berbagi ilmu pengetahuan, sehingga bisa bermanfaat bagi kita semua. Saya juga perlu sampaikan bahwa saya sehari-hari menjadi seorang jurnalis. Saya terlahir dari sebuah kampung halaman di Jeneponto Sulawesi Selatan. Namun, sejak tahun 2000 saya memilih hijrah ke Batam. Dan alhamdulillah sejak itu pula saya dipercaya menjadi seorang wartawan. Saya juga aktif pada sejumlah organisasi sosial kemasyarakatan dan keagamaan. Selamat dan sukses selalu.