Monday, April 7, 2008

Strategi Jurnalistik Dakwah

“Dan hendaklah ada di antara kalian, segolongan umat penyebar dakwah kepada kebajikan, yang tugasnya menyeru berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar.Itulah mereka yang beruntung” . (QS Ali Imran:104)

Era reformasi yang ditandai dengan munculnya banyak media cetak, baik berupa koran, tabloid, maupun majalah harus dianggap sebagai tantangan sekaligus ditangkap sebagai peluang dakwah yang strategis.

Penyampaian dakwah lewat media massa merupakan bagian dari dakwah bil qolam atau dakwah dengan pena. Langkah-langkah dakwah melalui media tersebut tentu cukup strategis.

Bagaimana Menjadi Seorang Penulis dan
Apa Modal Dasar Penulis?

Intelektual
“Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu itu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wa jalla dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya dalam kedudukan terhormat dan mulia. Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan akhirat.” (HR Ar-Rabi).


Untuk menjadi penulis, kita harus pintar secara intelektual. Memiliki banyak pengetahuan atau wawasan yang luas. Karena menulis di media massa sama dengan memberi informasi dan pelajaran kepada masyarakat. Sehingga seorang penulis haruslah seorang intelek. Intelektualitas bukanlah berarti menyangkut tinggi rendahnya pendidikan formal seseorang. Contoh seorang penulis, Emha Ainun Nadjib, Ahmad Thohari, Arsendo Atmowiloto, dan D Zawawi Imron.

Kepekaan

Ternyata pintar saja tidak cukup. Sehingga seorang penulis harus memiliki kepekaan dan saya kritis. Penulis harus mampu memahami fenoma yang sedang terjadi di sekitarnya. Seperti fenomena sosial yang terus berkembang. Tulisan yang tidak diimbangi dengan kepekaan sosial akan terasa hambar dan tidak menarik.

Keberanian

“Rasa takut kepada manusia jangan sampai mencegah seorang apabila mengetahui suatu yang haq untuk menegakkannya.” (HR Ahmad)

Tanpa keberanian, jalan yang Anda retas menuju dunia jurnalistik hampir bisa dipastikan akan gagal total. Sebab menyampaikan ide, pengetahuan, gagasan atau mungkin kritik sebagai bagian dari aktivitas seorang penulis membutuhkan keberanian. Minimal berani untuk mencoba.
-Ketekunan

“Dan kamu pahat sebagian gunung-gunung untuk djadikan rumah-rumah dengan rajin.” (QS Asy Syu’ara:149)

Ketekunan adalah salah satu kunci sukses menjadi penulis yang handal. Ada ungkapan, belajar menulis itu mudah, yang sulit adalah membiasakan diri untuk tekun menulis. Ketekunan merupakan kunci yang tak boleh diabakan.
Thomas Alva Edison menyebutkan, “Genius itu adalah 1 persen inspirasi, 99 persen cucuran keringat. Artinya kecerdasan dan kesanggupan berpikir itu hanya 1 persen, sisanya adalah kerja keras.

Kesabaran

“Tidak ada suatu rezeki yang Allah berikan kepada seorang hamba yang lebih luas baginya daripada sabar.” (HR Al-Hakim)

Ketekunan harus dibarengi dengan kesabaran agar kita tidak putus asa ketika tulisan yang dibuat secara payah ternyata ditolak mentah-mentah oleh redaksi. Tulisan yang ditolak bukanlah berarti kiamat yang menjadikan dirinya putus asa, namun sebagai cambuk untuk terus berkarya sampai produk tulisannya menembus media massa. Rasanya tidak ada cerita penulis top yang merinis karir penulisannya dengan melenggang begitu saja tanpa hambatan.

Penyampaian dakwah dapat melalui:
* Rubrik artikel atau opini
* Pemberitaan guna menghadapi perang pemikiran atau al ghazwul fikr.

Fungsi Media massa:
Fungsi Informasi
Dalam kehidupan di era keterbukaan ini, informasi sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Dalam konteks dakwah, seorang penulis bisa memainkan peran sebagai pelurus informasi. Sebab pada kenyataannya berita-berita yang tersaji di sebagian media massa ada yang direkayasa dan dimanipulasi guna mendeskriditkan salah satu kelompok.

Fungsi Pendidikan/dakwah
Sebagai pendidik, penulis muslim perlu memiliki komitmen dakwah agar bisa melaksanakan fungsi edukasi yang islami. Penulis dapat memberikan motivasi untuk tampil sebagai pribadi muslim yang kaffah di tengah kerusakan moral yang melanda umat manusia.

Fungsi Hiburan
Seorang penulis menghibur masyarakat melalui sajian tulisannya. Tak sedikit tulisan di media massa yang ditulis dengan sense of humor yang tinggi. Sehingga banyak ulasan topik yang berat menjadi ringan, segar, penuh nuansa, lucu, serta menyentuh sisi kemanusiaan. Tulisan menghibur itu bisa berupa cerita fiksi (novel dan cerpen) maupun feature (berita kisah).

Fungsi Kontrol Sosial.
Dalam konteks dakwah, penulis muslim harus tanggap bila terjadi penyimpangan atau penyelewengan, baik yang berkaitan dengan syariat Islam maupun kebijakan lainnya.
Bagaimana Strategi Jurnalistik di Media Massa?

Memahami Visi Media
Mencari informasi pada penulis yang sudah menulis di media tsb, mengamati sendiri, berdasarkan pengalaman. Secara umum, media saat ini lebih mengedepankan bisnis ketimbang idealisme. Hal itu terkait dengn kelangsungan media itu sendiri.

Cermat Memilih Bahan
(Penting, besar, waktu, dekat, tenar, serta manusiawi)

Menulis dengan Sistematis
(Urutan waktu/kronologis, urutan ruang, urutan klimaks, urutan sebab akibat, urutan akibat-sebab, urutan umumu-khuus, urutan khusus-umum, pemecahan masalah, keakraban, serta aksetabilitas.
Pintar mendesain Judul
Pintar Mendesain Lead
Kalimat Dibuat Padat, Lugas dan Komunikatif.

Tiga Bentuk Jurnalisme di Media Massa:
Media Massa dengan simbol Islam.
Misalnya, majalah Umat, Panji Masyarakat, Amanah, Hidayatullah, Suara Muhammadiyah, dll.
Media Massa tanpa simbol Islam.
Penyampaian informasi dilakukan secara tersirat dan masyarakat mempersepsikan memiliki misi agama, seperti Republika, Kompas.
Dalam media massa tertentu, penulis memasukkan misi agamanya, yang berupa gagasan dan ide. Misal, Bismar Siregar menulis di Kompas, Muhamad Sobary di Gatra, Emha Ainun Nadjid di Jawa Pos.***

No comments: