Rasulullah di Penghujung Ramadan
Oleh: Ariuddin Jalil *
Ramadan tahun ini, 1428 Hijriyah hampir berakhir. Tidak terasa Ramadan yang penuh barokah itu meninggalkan kita semua. Padahal belum tentu Ramadan mendatang, 1429 Hijriyah dapat kita bersamanya.
Menjelang berakhirnya bulan suci tersebut, beragam aktivitas kaum muslim dalam menyambut Idul Fitri. Tak sedikit di antara mereka sibuk mengurus kepentingan duniawinya, seperti rajin ke mall membeli pakaian lebaran, kue, serta aneka keperluan lainnya. Namun hanya segelintir kaum beriman yang menyempatkan diri memanfaatkan malam 10 terakhir Ramadan itu. Tengok saja jamaah yang melaksanakan salat taraweh. Hampir semua masjid di Batam tampak lapang lantaran jamaahnya semakin berkurang. Tak ada lagi masjid yang membludak hingga tidak mampu menampung jamaah karena antusias warga menyambut kedatangan bulan yang penuh barokah itu. Perbedaan di awal Ramadan dan di akhir Ramadan cukup terasa.
Padahal, kita tahu bersama bahwa malam-malam terakhir Ramadan itu merupakan malam yang sangat istimewa, yang populer dengan sebutan malam lailatul qadar.Rasulullah SAW selalu menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan itu. Beliau selalu beritikaf pada 10 malam terakhir Ramadan itu. Bahkan pada tahun dimana beliau wafat, beliau melakukan I’tikaf selama dua puluh hari.
Wahai hamba Allah, perhatikanlah tauladan kita Rasulullah dan para sahabatnya. Tatkala di penghujung bulan Ramadan mayoritas masyarakat muslim bersibuk ria dengan pakaian, makanan dan urusan duniawi dalam rangka menyambut Idul Fitri, namun tauladan dan kecintaan kita beri’tikaf di Masjid, lebih berkonsentrasi di dalam beribadah kepada Allah, melepaskan urusan duniawinya dan lebih menyibukkan diri dengan ketaatan kepada Allah. Maha Besar Allah, padahal beliau adalah orang yang telah dijanjikan surga oleh Allah, dan segala dosanya yang telah lalu dan akan datang diampuni oleh Allah Al-Ghofur, namun keteladanan beliau benar-benar menunjukkan akhlak yang agung, yang tiada tandingan dan bandingannya. Subhanallah.
Suatu ketika Rasulullah SAW ditegur oleh istrinya Aisyah. Apa sebab? Sang istri tercinta Aisyah prihatin dengan kebiasaan Rasulullah menghidupkan qiyamul lail atau salat malam. Saking lamanya berdiri menyebabkan kedua mata kaki Rasulullah bengkak. Aisyah pun prihatin lalu mendatangi Rasulullah. Ya Rasulullah, mengapa engkau lakukan ini? Bukankah segala dosamu, baik yang telah lalu maupun yang akan datang dijamin diampuni oleh Allah SWT? Lalu apa jawaban Rasulullah. Beliau menjawab, Wahai Aisyah, "Apakah memangnya saya ini tidak boleh menjadi hamba yang senantiasa bersyukur" Subhanallah. Rasulullah saja yang dijamin masuk surga, masih rajin sujud kepada sang khalik.
Sekedar diketahui, beritikaf adalah merupakan salah satu kebiasaan Rasulullah, yang dilakukan pada sepuluh di penghujung Ramadan. Kata i'tikaf berasal dari 'akafa alaihi', artinya senantiasa atau berkemauan kuat untuk menetapi sesuatu atau setia kepada sesuatu. Secara harfiah kata i'tikaf berarti tinggal di suatu tempat, sedangkan syar'iyah kata i'tikaf berarti tinggal di masjid untuk beberapa hari, teristimewa sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.
Selama hari-hari itu, seorang yang melakukan i'tikaf (mu'takif) mengasingkan diri dari segala urusan duniawi dan menggantinya dengan kesibukan ibadat dan zikir kepada Allah dengan sepenuh hati. Dengan i'tikaf seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, kita berserah diri kepada Allah dengan menyerahkan segala urusannya kepada-Nya, dan bersimpuh di hadapan pintu anugerah dan rahmat-Nya.
Yang dilakukan pada saat i'tikaf pada hakikatnya adalah taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah. Makna taqrrub adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan beragam rangkaian ibadah. Di antaranya,salat, zikir, membaca ayat-ayat Al-Quran, belajar Al-Quran, memahami isi kandungan Al-Quran, serta berdoa.
Meminta kepada Allah atas apa yang kita inginkan, baik yang terkait dengan kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat. Dan aktifitas meminta kepada Allah bukanlah kesalahan, bahkan bagian dari pendekatan kita kepada Allah. Allah SWT senang dengan hamba-Nya yang meminta kepada-Nya. Meski tidak langsung dikabulkan, tetapi karena meminta itu adalah ibadah, maka tetaplah meminta.
Semakin banyak kita meminta, maka semakin banyak pula pahala yang Allah berikan. Dan bila dikabulkan, tentu saja menjadi kebahagiaan tersendiri. Dan meminta kepada Allah (berdoa) sangat dianjurkan untuk dilakukan di dalam berik'tikaf.
Namun dari semua kegiatan di atas, bukan berarti seorang yang beri'tikaf tidak boleh melakukan apapun kecuali itu. Dia boleh makan di malam hari, dia juga boleh istirahat, tidur, berbicara, mandi, buang air, bahkan boleh hanya diam saja. Sebab makna i'tikaf memang diam. Tetapi bukan berarti diam saja sepanjang waktu i'tikaf.
Itikaf itu hukumnya sunnah untuk dilakukan di 10 hari terakhir bulan Ramadan. Dalilnya adalah perbuatan nabi SAW yang telah melakukannya, bahkan tiap tahun tanpa meninggalkannya sekalipun. Sehingga ada sebagian ulama yang nyaris hampir mewajibkannya. Namun hukumnya tidak wajib, tetapi sunnah yang sangat dianjurkan.
Dari Aisyah Ra. ia berkata, "Rasulullah SAW melakukan i'tikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan, sampai saat ia dipanggil Allah Azza wa Jalla." (HR Bukhari dan Muslim).
Dan dari Ibnu Umar r.a. ia berkata, "Rasulullah SAW melakukan i'tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan." (HR Bukhari dan Muslim).
Wahai hamba Allah, kita masih punya kesempatan untuk menghidupkan malam-malam terakhir di penghujung Ramadan itu. Memperbanyak itikaf adalah bagian upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ingatlah bahwa Ramadan yang sebentar lagi meninggalkan kita, belum tentu dapat bertemu pada Ramadan berikutnya. Semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang selalu menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan. Sehingga kita meraih keberkahan, ampunan-Nya, serta dibebaskan dari api neraka, amien. Wallahu a'lam bishawab. ***
Arifuddin Jalil, Ketua Bidang Hikmah dan Hubungan Antar Lembaga Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Provinsi Kepri, serta Ketua Bidang Kerohanian PWI Cabang Kepri.
Tuesday, April 8, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment