Friday, August 15, 2008

Investor Politik


 Salah seorang sahabat saya yang dilamar salah satu partai politik (parpol) pernah curhat. Ia adalah figur yang relatif dikenal oleh masyarakat. Ketenarannya tak layak diragukan karena selalu hadir di tengah-tengah masyarakat memberikan siraman rohani. Ia juga cukup aktif dalam berbagai organisasi sosial kemasyarakatan. Jadi secara akses, sahabat saya itu tak diragukan lagi. Begitu juga kemampuan dan pemahaman berpolitik relatif cukup bagus.
 Maka tak salah kalau salah satu pendulang suara pada Pemilu 2004 lalu itu meminangnya. Dengan harapan suara parpol tersebut bisa semakin terdongkrak. Hanya saja, ia pusing tujuh keliling. Sebab jangankan untuk mempersiapkan umbul-umbul kampanye, biaya pengurusan persyaratan calon legislatif saja, ia tak punya. "Sebelum memutuskan menerima pinangan itu, saya sempat bingung,'' katanya sambil tersenyum.
 Sebagai seorang sahabat, saya sempat menghiburnya. Sebenarnya, anggaran bukanlah segala-galanya. Masih banyak hal yang bisa diperbuat untuk mensosialisasikan diri. Apalagi kalau ia seorang figur yang cukup dikenal karena nasehatnya selalu ditunggu jamaah. "Bismillah saja," ucapku memberi semangat.
 Tak lama kemudian, saya mencoba memberikan sebuah ide yang agak nyeleneh,"Bagaimana kalau kita cari investor," saranku. Investor?" ucapnya kaget. "Ya investor politik. Kita mencari kaum dermawan atau sahabat yang memiliki dana, namun bisa dialokasikan pada kepentingan sang sobat karibku itu. "Wah, gimana caranya sobat?"desaknya.
 Ya, kita bikin semacam kontrak politik. Penghasilan Anda sebagai wakil rakyat alias gaji sebagai anggota dewan itu, kita tawarkan dibagi dua, yakni 50 persen untuk investor dan 50 persen untuk Anda. Kalau total gaji Anda nantinya sekitar Rp20 juta, maka dibagi dua saja. Selesai. Tapi kalau tak jadi? Tanggung same-same jugalah sobat he he he!

1 comment:

Nirbaya said...

salam kenal, mampir ya ke http://ingat-aku.blogspot.com